Syeck Basarudin Gunung Munggut

Kitab Blawong Syekh Basyaruddin Pringapus

 

Kitab Blawong Syekh Basyaruddin PringapusKitab Blawong Syekh Basyaruddin Pringapus

KITAB BLAWONG

Adalah Kitab Al Quran tulisan tangan yang ditulis oleh seorang wali yang tinggal di Pringapus bernama Syekh Basyaruddin. Berasal dari laqob (bahasa Arab: julukan) atau paraban (Jawa: sebutan) yang diberikan oleh masyarakat Pringapus dan sekitar yang diberikan pada Al Quran tersebut karena keistimewaan-keistimewaan yang dimilikinya.

Istilah Blawong berasal dari Bahasa Jawa yang merupakan penggabungan dari kata Mbelani Wong atau Mbilaheni Wong. Mbelani artinya membela, sedangkan wong artinya orang. Jadi mbelani wong, berarti membela orang yang bertindak benar. Mblaheni artinya mencelakakan, sedangkan wong artinya orang. Jadi mbilaheni wong berarti membuat celaka bagi orang yang salah atau mempunyai niat buruk.

Berdasarkan wawancara dengan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, istilah tersebut dipakai, kemungkinan besar karena istilah ini disepakati bersama hanya untuk memudahkan masyarakat dalam menyebut dan mengingat Al Quran tulisan tangan milik Syekh Basyaruddin tersebut.

 Tetapi sayangnya diakhir tahun 2010 kitab tersebut hilang dari tempatnya.  hilangnya kitab tersebut berdekatan dengan moment pilkada di kabupaten semarang yang akhirnya dimenangkan oleh JIWA (Mundjirin dan Wanardi). Menurut Bapak Djumari hilangnya kitab tersebut merupakan sebuah kerugian yang besar dan beliau menghimbau agar si pengambil segera mengembalikan kitab tersebut pada tempatnya karena kitab tersebut merupakan peninggalan sejarah yang harus di lestarikan. Lapioran yang sudah dilakukan Bapak Imron Rosyadi ke polisi sejauh ini juga belum membuahkan hasil.

SYEKH BASYARUDDIN

(seorang wali, Syekh Basyaruddin, seorang penyebar agama Islam di daerah Pringapus).

Konon + 335 tahun yang lalu, hiduplah seorang ulama bernama Syekh Basyaruddin, seorang pengembara yang berasal dari Alas Turonggo Surakarta Hadiningrat. Beliau merupakan satu dari empat bersaudara ulama yang menyebarkan agama Islam di daerah Pringapus. Tiga orang saudaranya adalah Syekh Akmaludin (lebih dikenal dengan sebutan Mbah Njenengan), Ahsanudin, dan Thalabudin. Versi lain menyebutkan bahwa empat bersaudara tersebut adalah Basyaruddin, Akmaludin, Ahsanudin, dan Shihabudin. Di antara keempat bersaudara tersebut, hanya Syekh Akmaludin saja yang mempunyai keturunan sehingga keturunannya itulah yang sampai saat ini dianggap sebagai ahli waris Syekh Basyaruddin.

diantara keturun beliau dari jalur ini adalah Hari, Imron Rosyadi, Nur Hamidah , Puji dan Irkham. IMron Rosyadi memiliki 3 anak yakni Dini. Didit dan Dela. jika pembaca ingin tahu lebih lanjut tentang sejarah Syeck bisa berbincang2 dengan Bapak Imron – KH Munir Abdullah- KH Drs Hisyam ALI.

Syekh Basyaruddin adalah penyebar ajaran Islam di Pringapus yang diperkirakan hidup pada masa pemerintahan Raden Purwokusuma yang bergelar Pangeran Benowo kira-kira pada akhir abad 18 Masehi. Pada saat itu Pringapus masih bernama desa Tanjung.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s