Kutbah Jumat /7/3/14

 

Khutbah Pertama:

 

Kaum Muslimin, rahimakumullah

 

Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan terus berupaya menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi semua laranganNya. Diantara perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita adalah perintah agar kita mengikuti Nabi Muhammad . Beliau adalah teladan terbaik bagi kaum Mukminin.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا

 

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab: 21)

uswatub hasanah adalah gelar terindah yang disematkan kepada beliau. Gelar ini jelas lebih agung dan lebih sulit dicapai ketimbang gelar keduniaan seperti sarjana, doktor maupun profesor sekalipun.

 

Bahkan ada sebuah kisah dimana seorang sahabat bertanya pada nabi, ya Rosul kapan kiamat akan terjadi ? Kemudian Nabi ganti bertanya pada sahabat tersebut : apa modalmu menghadapi kiamat. Sahabat tersebut menjawab aku tidak punya modal apapun kecuali mencintai Alloh dan Rosulnya. Sungguh sebuah keyakinan yang amat tinggi dari seorang sahabat dimana beliau hanya bermodal cinta pada Alloh dan mencintai keteladanan rosulnya menganggap cinta tersebut lebih dari cukup untuk menyongsong kematian bahkan kiamat sekalipun.

 

Untuk meneladani dan mengikuti Beliau , kita terlebih dahulu harus mengetahui bagaimana Beliau dalam kehidupannya. Maka pada hari ini, kita akan sedikit saling mengingatkan tentang keagungan pribadi dan akhlak Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Kaum Muslimin, rahimakumullah

 

Pribadi Rasulullah sadalah pribadi yang sangat agung, yang menjunjung tinggi akhlak mulia. beliau memadukan antara pemenuhan terhadap hak Allah, sebagai Rabbnya dan penghargaan kepada sesama manusia.

 

Bandingkan dengan kondisi masyarkat kita saat ini yang cenderung menjauh dari keteladanan rosul dan lebih senang berenang dalam kesenangan duniawi. Sehingga Alloh menguji negeri ini dengan berbagai ujian yang amat dasyat dan luar biasa, mulai dari gempa bumi, banjir dimana-mana , gunung meletus dan sebagainya. Kita tentu ingat pesan Alloh dalam surat Ar Rum ayat 41 yang artinya Telah tampak kerusakan di darat dan dilaut disebabkan perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

 

Huruf ba pada lafad bima bimakna sababiah ini mengandung arti bahwa musibah turun karena sebab ulah manusia. Padahal kalau kita bicara dalam tataran hakikat musibah seharusnya bisa dipersempit. Musibah memang sebuah sunatullah ataupun hukum alam yang pasti terjadi karena dengan cara itulah Alloh mengatur keseimbangan dunia. Akan tetapi siapa yang terkena inilah yang menjadi pertanyaan kita,. Kita tidak mungkin berdoa agar Alloh jangan menurunkan musibah kedunia. Karena musibah adalah hak penuh Alloh. Bukankah umat-umat terdahulu yang durhaka juga Alloh binasakan dengan musibah dan bencana alam. Kaum Nabi Nuh binasa karena Tsunami yang amat dasyat. Bangsa shadum – kaum nabi luth hancur karena gempa bumi. Bahkan kanan putra nabi nuh dan Absyalum putra nabi daud di jerusalem juga binasa karena menentang perintah Alloh, bahkan Alloh dengan tegas mengingatkan Nabi Nuh

 

 

wahai Nuh Kanan bukanlah keluargamu karena ia tidak beramal dengan perbuatan yang soleh .

 

Inilah mengapa Rosul juga sangat takut terhadap murka Allah jika beliau melihat gumpalan awan, terlihat di wajah beliau isyarat seakan tidak suka. Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah menanyakan hal tersebut, “Wahai Rasulullah ! orang-orang umumnya senang melihat gumpalan awan karena berharap guyuran hujan, sementara engkau terlihat tidak suka.” Rasulullah bersabda:

 

يَا عَائِشَةُ وَمَا يُؤْمَنُنِي أَنْ يَكُوْنَ فِيْهِ عَذَابٌ قَدْ عُذِّبَ قَوْمُ بِالرِيْحِ

 

“Wahai Aisyah! Adakah yang memberi jaminan kepadaku bahwa tidak ada adzab dibalik awan itu? Karena ada juga kaum yang diadzab dengan menggunakan angin.”

 

inilah mengapa Nabi mengajarkan pada kita agar menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmatNya dan sering bertaubat dan beristigfar. Bahkan beliau pernah shalat sampai kedua kaki beliau bengkak, sehingga ada yang mengatakan:

 

يَا رَسُوْلَ اللهِ غَفَرَ اللهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَفَلَا أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا

 

“Wahai Rasulullah! Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lewat dan yang datang?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ringan menjawab, “Tidakkah patut aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?!”

 

 

Kaum Muslimin, rahimakumullah

 

Kisah lain datang dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang pernah tinggal dan membantu beliau selama 10 tahun, baik dalam perjalanan maupun ketika di rumah. Anas radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Rasulullah selama 10 tahun tidak pernah mengatakan ‘Uh’ kepadanya. Beliau juga tidak pernah menyalahkan Anas radhiyallahu ‘anhu terhadap apa yang dilakukan, dengan mengatakan, “Kenapa engkau melakukan ini?” atau terhadap apa yang tidak dilakukan, dengan mengatakan, “Kenapa engkau tinggalkan?”

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memukul siapapun dengan tangan beliau, meskipun seorang pembantu kecuali dalam kondisi jihad fi sabilillah. Betapa tinggi serta muli akhlak Rasulullah ssehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

وَ إِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

 

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. al-Qalam: 4)

 

Kaum Muslimin, rahimakumullah

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam orang yang paling agung, paling mulia dan paling luhur akhlaknya. Rasulullah tidak pernah melakukan perbuatan nista, tidak pernah mencela dan beliau bukanlah tipe orang yang suka malaknat.Beliau juga adalah seorang yang sangat dermawan terutama pada bulan Ramadhan. Kedermawanan beliau mengalahkan angin yang berhembus. Jika ada yang meminta sesuatu kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam atas nama islam, maksudnya untuk memotivasinya agar masuk, maka pasti beliau akan berikan, meskipun itu besar. Pernah rosul memberikan sekawanan kambing kepada seorang laki-laki. Setelah mendapatkan pemberian yang sangat banyak tersebut, orang itu pulang ke kaumnya dan mengatakan:

 

يَا قَوْمُ أَسْلِمُوْا فَإِنَّ مُحَمَّدًا يُعْطِيْنِي عَطَاءَ مَنْ لَا يَخْشَى الفَاقَة

 

“Wahai kaumku, masuklah kalian ke agama Islam, karena Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan sesuatu sebagaimana pemberian orang yang tidak takut kemiskinan.”

 

Kaum Muslimin, rahimakumullah

 

Akhlak mulia beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berikutnya adalah beliau sangat zuhud terhadap dunia, padahal beliau Rasulullah, utusan Allah , Rabb yang maha kaya.

 

Bahkan beliau sering berdoa

 

 

ya alloh hidup dan matikan aku dalam kondisi miskin, dan kumpulkan aku bersama orang-orang miskin .

 

Beliau meninggalkan dunia ini tanpa meninggalkan harta warisan berupa emas, perak maupun binatang ternak. Beliau hanya meninggalkan senjata dan baju besi beliau yang digadaikan kepada seorang Yahudi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

 

 

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s