Kutbah Jumat : Makna Idul Fitri

Sidang jumah yang dirahmati Alloh
Dalam kutbah siang hari ini khotib mengajak pada jamaah semua agar senantiasa meningkatkan ketaqwaan pada Alloh SWT.
Hadirin yang dimulyakan Alloh
Dua doa yang selalu terlantum dalam suasana idul fitri adalah minal aidin wal faizin yang secara mudah dipahami sebagai semoga orang yang kembali dan orang yang memperoleh kemenangan. Ibarat sebuah turnamen sepakbola dimana 2 tim yang masuk final pasti kembali ke tempatnya masing-masing. Pertanyaannya apakah ia kembali sebagai seorang pemenang ataukah seorang pecudang. Begitupun yang terjadi pada kita dan saudara-saudara kita hari ini. Jika ibadah romadhon ia lalui dengan baik maka ia termasuk minal aidin wal faizin. Akan tetapi jika tidak maka ia termasuk minal aidin wal khosirin. Lalu apa indikatornya.
Diantara indicator minal aidzin wal faizin adalah
1. Adanya istikomah fil ibadah. Sering istikomah ini umat islam tinggalkan sehingga seolah-olah penilian Alloh hanya terjadi dibulan romadon saja. Sementara 11 bulan yang lain ia abaikan. Klu romadhon baca quran luar biasa. Tetapi setelah romadhon menjadi sesukianya. Padahal dalam surat jin ayat 16 Alloh mengingatkan
Artinya. Dan jika mereka berjalan lurus diatas jalan itu maka niscaya kami akan benar-benar memberi minum mereka air yang segar.
Dalam tafsir ibnu kasir, Imam mujahid menjelaskan bahwa jalan yang lurus adalah agama islam. Dimana 5 rukun atau sendinya adalah perintah ibadah. Maka yang akan mendapat air surgawi Alloh adalah mereka yang istikomah dalam beribadah. Lalu bagaimana jika kita hanya beribadah maksimal di bulan suci romadhon saja akan tetapi setelahnya tidak istikomah. Tentu jawabnya kita sendiri yang mampu menjawab.
2. Bertambahnya sifat ikhlas kepada Alloh. Puasa adalah ibadah mahdiyah yang jurinya adalah Alloh. Ini berarti romadhon benar-benar mendidik kita agar apa yang kita kerjakan selalu Alloh oriented atau bertujuan hanya untuk Alloh. Meminjam istilah ustadz yusuf Mansur Alloh dulu, Alloh lagi dan Alloh terus. Bukan kah Alloh itu dekat pada kita melebihi urat nadi. Karena Alloh adalah dzat yang maha luasa sementara kita ibarat sebuah titik didalamNya.
3. Ciri yang ketiga dari minal aidin wal faizin adalah mereka yang bertambah ilmunya. Romadhon sering disebut sahrut tarbawi wa dakwah. Dan faktanya setiap menit bahkan detik kita selalu bisa mendengarkan ceramah baik langsung, lewat media maupun cara lain. Tentu sangat rugi jika romadhon berlalu sementara pengetahuan kita tidak bertambah. Apalagi nabi sangat mengharpkan bahwa disetiap saat dan waktu dari umat ini ada yang menjadi penerusnya. Inal ulama warosatul ambiya” bahwa nabi berharap akan selalu muncul ulama-ulama yang menjadi pewaris para nabi. Hadis ini tidak Cuma menjelaskan bahwa ulama itu pewaris nabi Muhammad akan tetapi memakai makna jamak yaitu para nabi. Maka seyogyanya ulama itu adalah mereka yang punya pengetahuan dengan berbagai disiplin ilmu seperti para nabi di era sebelum nabi Muhammad. Nabi Nuh merupakan pakar pembuat perahu. Nabi daud pakar pembuat senjata perang. Nabi Sulaiman adalah seorang penguasa yang menjadi milyuner. Nabi Isa adalah pakar kedokteran yang handal. dan lain sebagainya . jika ilmu-ilmu ini dikuasai oleh para ulama selaku pemegang tongkat dakwah warisan dari para nabi. Tentu umat ini akan semakin tercerahkan.

Hadirin yang dirahmati Alloh
Lalu apa indikasi seseorang yang minal aidin wal khosirin
1. Dia tidak istikomah dalam beribadah. Sering sekali terjadi penuruan kualitas ibadah pada saat idul fitri dating. Ketika puasa berlalu dan diganti dengan syawal banyak sekali manusia yang merasa ibarat kuda ia lepas kendalinya. Belenngu nafsu dengan sedikit makan sekarang sudah lepas. Maka yang terjadi kesenanga dan kesenangan lahayat yang dicari. Padahal dalam surat al anam 44 Alloh mengingatkan. Yang artinya. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang diberikan pada mereka kamipun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka gembira dengan apa yang diberikan pada mereka kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka seketika itu mereka diam berputus asa.
2. Indicator minal aidin wal khosirin yang kedua adalah tidak bertambahnya pengetahuan. Banyak diantara umat islam yang lebih berpikir bagaimana materi tercukupi dihari raya ketimbang memperdalam ilmu-ilmu Alloh. Dia menganggap bahwa kebahagian itu adalah terwujudnya keinginan duniawi. Tentu hal ini perlu dikoreksi. Bahwa mencari duniawi itu sah-sah saja sepanjang Alloh kita libat didalamnya. Kaya boleh tapi zakat jangan lupa. Sukses harus tetapi dhuafa harus diperhatikan.
3. Orang yang minal aidzin wal khosirin adalah ketika bulan syawal dating akan tetapi hatinya belum juga nyambung ke al quran. Baik keinginan membaca, menghafal, memahami atau mengamalkannya. Ketika kita belum bisa mengamalkan secara utuh minimal kita berusaha memahaminya. Ketika kita belum mampu memahaminya minimal kita berusaha membacanya dengan baik. Akan tetapi jika makna-makna tersebut belum juga bisa terwujud tentu asar manfaat nuzulul quran di bulan suci romadhon belum berefek. Padahal cinta quran adalah kunci kedamian dan kebahagiyaan.
Demikian kutbah jumat siang hari ini. Kurang lebihnya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga Alloh menjadikan kita semua manusia yang lebih istikomah dalam beribadah. Amin ya robal alamin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s